Maula Jalaluddin Rahmat, Itulah Panggilan dari Rektor UMJ untuk Jalal

Minggu, 27/10/2013 09:48:26 | Shodiq Ramadhan | Dibaca : 112

Prof Dr Hj Masyitoh Chusnan, M.Ag, Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta. (foto: shodiq)

Jakarta (SI Online) – Semburat kekecewaan dapat terbaca jelas dari wajah Profesor Doktor Masyitoh Chusnan. Gara-gara aparat kepolisian meminta agar acara Seminar Internasional Idul Ghadir sesegera mungkin diselesaikan, Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) itu tak dapat menyampaikan isi makalahnya secara utuh. Padahal, kata Masyitoh, dirinya sudah mempersiapkan dalam bentuk slide power point layaknya acara seminar-seminar.

Ya, Profesor Masyitoh yang juga Ketua PP Aisiyah adalah salah satu pembicara dalam seminar bertajuk “Imam Ali as Putra Ka’bah Pemersatu ummat” yang diselenggarakan Ikatan Ahlul Bait Indonesia (Ijabi) di Gedung Smesco, Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (26/10/2013).

Pembicara lain dari Indonesia adalah Rois Syuriyah PBNU KH Syaifuddin Amsir dan budayawan Betawi Ridwan Saidi. Sementara tiga lainnya, duta besar Iran, duta besar Paraguay dan seorang tokoh cendekiawan asal Iran. Maklum, Idul Ghadir ini memang didukung oleh Kedubes Iran. Bahkan kedatangan Dubes Paraguay, yang baru sebulan masuk Islam juga atas undangan Kedubes Iran di Jakarta.

Profesor Masyitoh, di awal sambutannya terlihat sangat menghormati pihak yang mengundangnya. Saat menyebut duta besar Iran untuk Indonesia, Dr Mahmoud Farazandeh, Masyitoh memberi keterangan bahwa kedubes Iran adalah salah satu mitra UMJ yang telah cukup lama bekerja sama.

Sementara saat menyebut Ketua Dewan Syuro Ijabi, Jalaluddin Rahmat, Masyitoh menambahi dengan “gelar kehormatan” di depan namanya dengan sebutan “Maula”. “Yang saya banggakan Maula Jalaluddin Rahmat, ini seperti Maula Jalaluddin Rumi,” kata Masyitoh.

Terang Masyitoh, jika Rumi dikenal dengan karya-karyanya dan sufinya, maka Maula Jalauddin Rahmat juga dikenal dengan tulisannya yang banyak dan cukup berbobot terait persoalan keagamaan.

Dalam khazanah Islam, panggilan “maula” oleh orang merdeka (bukan budak) kepada orang lain sebenarnya tidak diperbolehkan. Panggilan “maula” biasanya hanya dilakukan seorang budak kepada majikannya. Kecuali panggilan “maula” untuk Rasulullah yang bermakna sebagai “an nashir” atau penolong, maka Rasulullah boleh dipanggil dengan panggilan “Maulana ya Rasulullah”. Jika Masyitoh menyebut Jalal dengan Maula Jalaluddin Rahmat entah apa maksudnya.

Setelah itu baru Masyitoh mengucapkan selamat kepada Ijabi yang dinilainya sukses menggelar perayaan Idul Ghadir.

“Atas nama diri saya sendiri saya mengucapkan kepada pengurus Ijabi yang pada hari ini melaksanakan silaturahim dalam rangka peringatan Idul Ghadir. Kami ucapkan selamat semoga silaturahim ini membawa berkah umat Islam,” katanya.

Masyitah lantas bercerita saat dirinya bersama 20 rektor se Indonesia diundang Kedubes Iran di Indonesia untuk mengunjungi Iran. Dalam rombongan pesawat itu, kata Masyitoh, juga bersama rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Di tengah perjalanan, rupanya mereka mendapatkan halangan. Salah satu mesin pesawat yang mereka tumpangi, akhirnya rombongan kembali ke Kuala Lumpur.

“Apa komentar Dubes Iran? Ini rombongan yang akan berangkat ke Iran mereka punya nyawa dua. Kami diselamatkan Allah Swt, akhirnya kami sampai ke negeri Persia,” kata Masyitoh bangga.

Lalu berceritalah Masyitoh tentang Iran, tentu yang terkait dengan dunia akademik, seperti melihat perpustakaan dan buku-buku di Iran yang dijual murah. “Saya ingin beli sebanyak-banyaknya,” katanya.

Selesai cerita soal Iran, Masyitoh lantas menyinggung sedikit terkait topik seminar. “Imam Ali as Putra Ka’bah Pemersatu ummat”. Terkait masa kepemimpinan Ali, Masyitoh menyebut bahwa dalam perjalanan pemerintahan Ali, dia banyak memperoleh rongrongan dari orang-orang yang tidak suka kepemimpinannya.

“Selama masa kepemimpinannya, pemerintahan Islam terus dirongrong oleh penyerangan yang dipimpin oleh penantanganya yaitu Muawiyah gubernur Suriah yang diangkat Umar bin Khattab,” ungkap Masyitoh.

Lalu, Imam Ali, kata Masyitoh, syahid dibunuh oleh Ibnu Muljam pada 19 Ramadhan 40 Hijriyah. “Selesailah sudah perjuangan Imam Ali dan tanggung jawabanya dalam dakwah Islam. Allah menyayangi beliau untuk diselamatkan dari rongrongan musuh yang tiada henti,” lanjutnya.

Meski Ali sudah wafat, kata Masyitoh, tetapi rupanya penderitaan belum usai. “Karena putra-putra terkasihnya dibantai oleh pemerintah yang lalim dan keji di Padang Karbala, hingga kini menjadi saksi. Semoga Allah mengasihi mereka para ahlul bait. Amin ya rabbal alamin,”tutupnya.

red: shodiq ramadhan

Baca Juga

  • Mualaf Orang Rimba Nikmati Kurban dari Jakarta
  • Sah, Malaysia Tetapkan kata Allah Hanya untuk Kalangan Islam

Source: http://www.suara-islam.com/read/index/8839

Incoming search terms:

  • www foto kata nasihat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>